PENGEMBANGAN INDUSTRI KREATIF DI KOTA BANDUNG MELALUI KLASTER WISATA
Abstract
Abstrak: Perkembangan Kota Bandung sebagai kota kreatif mulai terasa pada peralihan milenium setelah krisis ekonomi pada tahun 1997. Kota Bandung menjadi pelopor industri kreatif di tanah air karena banyaknya karya kreatif yang dihasilkan dan menjadi tren di Indonesia, terutama di kalangan generasi muda. Industri kreatif yang berkembang di Kota Bandung memberikan kontribusi yang signifikan, namun belum terkelola secara benar dan berdampak tumpang tindihnya fungsi kawasan dan menimbulkan ketidaknyamanan bagi wisatawan.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dibagi menjadi dua kegiatan yaitu survey primer yang terdiri atas observasi lapangan, wawancara, serta penyebaran kuesioner dan survey sekunder yang terdiri atas studi literature serta pengumpulan data melalui instansi – instansi terkait. Objek penelitiannya adalah industri kreatif di Kota Bandung.Berdasarkan hasil penelitian, teridentifikasi 15 klaster wisata industri kreatif yang memiliki klasifikasi kegiatan industrinya bervariasi/ campuran dan dominan pada satu jenis industri saja. Sementara indikator kesiapan wilayah adalah pada kemudahan aksesibilitas dari dan di dalam wilayah tersebut dengan seluruh fasilitas, sarana, dan prasarana penunjangnya yang bersifat fisik maupun nonfisik.
Kata-kata kunci: perencanaan pariwisata, concept of destination zone,
industri kreatif, klaster
Abstract: Development Kota Bandung as a creative city began at the millennium that developed after the economic crisis hit Indonesia in 1997. Kota Bandung may be regarded as a pioneer of creative industries because of many creative works produced by those actors who later became a trend in Indonesia, especially among the younger generation. Developing creative industries in Kota Bandung make a significant contribution, just because it has not managed properly, making this activity takes place sporadically resulting in the overlapping area function and cause inconvenience for tourists.This research, identified 15 creative industries tourism clusters which has varied industrial activity classification / mix and dominant in one type of industry.While the region's readiness indicator is on ease of accessibility of and within the region with all amenities, facilities and infrastructure supporting the physical and non physical.
Keywords: tourism planning, concept of destination zone, creative industries,
clustersFull Text:
PDFReferences
Gunn, C.A. (1994). Tourism Planning: Basics Concepts & Design. USA: Taylor & Francis
Ramadhini, A.R. (2008). Perkembangan Industri Kreatif: Indonesia dan Inggris. Warta Pariwisata Vol. 10 (2).
Virna, N.E. (2008). Industri Kreatif dan Kota Kreatif. Warta Pariwisata, Vol. 10 (2).:Routledge.
World Tourism Organization. (1994). National and Regional Tourism Planning: Methodologies and Case Studies. London: Routledge.
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Jurnal Barista telah terindeks di: